Cerbung

Karna Diri-Mu

Oleh : Arif hidayatulloh

Pagi ini begitu cerah, udaranya begitu segar. Embun-embun masih terlihat jelas diselah selah bunga mawar yang ada dipinggiran surau. Sudah menjadi rutinitas Kh.Asror. mengisi pengajian di waktu pagi. Kicauan burung-burung mengiringi bacaan makna Kyai Aku dan santri yang lain mendengarkan dengan seksama penuh konsentrasi. Sebagian ada yang menulis keterangan yang di sampaikan di pinggiran kitabnya dan sebagaian cukup mendengarkannya saja. Pasalnya para santri yang mengaji tidak pernah mencapai 20 samapai 30 santri yang mengaji. Namun setelah kedatang neng Layla, minat Santri untuk mengaji menaik dan Santri yang mengaji semakin bertambah dari sebelumnya. Karna setiap kali beliau membuka pengajian neng Layla selalu mengantarkan air minum. Dari situlah para Santri khususnya para Santri yang niatnya setengah-setengah mencuri pandang neng Layla. Bibirku acap kali mengucapkan istiqfar kala kumendengar omongan dari sebagian Santri “setelah kedatangan neng, aku jadi pengen ngaji terus, karna dengan begitu aku bisa melihat keindahan parasnya.”

Untuk hari ini, beliau tidak mgantarkan air. Kemudian Mustofa sebagai khoddam Kh.Asror datang setengah berlari tanpa mengurangi sopan santun menghampiri Kyai Ia menyampaikan berita yang dia bawa dari dalem. Terlihat rona muka beliau terlonjak kaget. Kh.Asror memanggilku. Aku menangkap segurat kesedihan di wajahnya. “aku pasrahkan pengajian ini padamu, nanti jam 09:00 kamu bisa berhenti” suara beliau terdengar parau. Kemudian beliau meninggalkan aku dan keluar dengan mobil strem bersama Mustofa. Akupun meneruskan pengajian. Entah kali berapa aku mendapatkan titah atau amanah mewakili Kyai saat beliau ada udzur. walupun sebenarnya aku merasa tidak pantas lantaran ilmu yang kumiliki sangatlah minim. Kebiasaanku sebelum memulai pengajian yang hampir menjadi kewajibanku berkata “bila dalam apa yang saya baca ada kesalahan mohon di benarkan.”

Detik terus berlari mengarungi bacaan makna utawi iki iku. Dan tak terasa waktu menunjukkan jam 09:00. Aku tak berani menambah maupun mengurangi. Ku tutup pengajian dengan bacaan hamdalah. Seketika Santri-santri berhamburan keluar dari surau memenuhi jalan kemudian kerumunan santri terbelah oleh mobil Kyai yang lewat. Semua kepala menunduk penuh rasa hormat.  Mobil masuk ke peluran halaman sempit yang menjadi tempat parkir mobil Kh.Asror. Sepasang kaki turun dari mobil dan teryata Kh.Asror tidak ada. Beliau tidak ikut. Aku mendekati Mustofa dan bertanya.

“sebenarnya ada apa?” Mustofa tak menjawab. Ia tak menghiraukan malah ia pergi melangkah hendak meninggalkan aku. Reflek dengan cepat ku raih tangannya. Iapun berbalik. Wajahnya seperti menahan beban berat. Rasa penasaranku semakin memburu.

“apa yang sedang terjadi?”  Mustofa tertunduk, pandangannya lurus kebawah. Ku coba mengulangi pertanyaanku. “ada apa..!?” nada suaraku meninggi Kemudian ia menjawab

“neng Layla, neng”

“Kenapa dengan neng Layla ?”

“beliau kecelakaan, saat ia pergi belanja di teretan swalayan” aku seperti tersengat petir mendengarnya. “kata dokter, beliau di prediksikan kaki dan tangannya patah, matanya buta dan kupingnya tuli.” Ada air mata menetes dari pelupuk mata Mustofa. Aku sendiri tak bisa menahannya. Mataku memanas ada satu dua tetes jatuh dari mataku. Sempat terbayang dalam lintas hayalku. Neng Layla yang menjadi buah bibir di kalangan para Santri karna parasnya yang bercahanya. Kini rembulan itu harus berhari-hari bersembunyi di rumah sakit. Derap langkah kakinya yang bisa membuat burung membuntutinya. Kini kaki itu harus ditemani oleh sempalan kayu. Tangannya yang begitu indah bisa menarik semua mata tuk memandangnya.. Kini harus di ikat dengan rapat di gantungkan pada lehernya. Mata yang bak permata safir bisa membuat mata tak berkedip bila melihatnya.

Detik mengukir lintasan menit, menit memahat lombaran jam. Jampun menerobos dinding hari. Dari kejadian itu sudah mendapat satu pekan, Kh.Asror masih saja aktif mengisi pengajian di surau. Hanya saja kondisi Santri yang mengaji sangat ini memprihatinkan. Peresentase santri mengurang 60% sampai 75%. Setiap aku mendengar pengakuan para Santri -“neng Layla tak lagi mengantarkan air, aku jadi malas mengaji”- maka aku jadi mengerti maksud mereka. Niat mereka bukan murni karna Allah, melainkan hanya karna sesuatu yang sifatnya fatamurgana. Padahal Rosul telah bersabda. “innama ala’malu binniyat” walaupun ditengah tengah kondisi genting seperti ini, niatku tak akan dan tak pernah berubah. Niatku telah tertanam dalam hati semata-mata karnaMu ya Allah.

Saat ini ekonomi keluarga sangat menipis. Orang tuaku yang hanya berpenghasilan kecil sebagai penjual tahu tak bisa lagi memenuhi kebutuhanku di pondok. 10 tahun aku hidup dipesantren rasanya harus berakhir sampai di sini. Dan ilmu yang kudapati sangatlah sedikit. Hendak hati ingin sekali hidup dan mati kuserahkan hanya untuk mencari ilmu dan berhidmah pada Kyai, namun nasib berkata lain.

Adzan isyak dari tadi sudah di kumandangkan, hanya saja sang muadzin dan makmum menunggu Kyai sebagai imam. Semuanya berdiri, mengisarohkan Kyai sudah datang. Beliau berjalan begitu wibawa. Akan aku utarakan hasratku ini setelah sholat isyak. Kh.Asror takbir, aku dan semua makmum mengikutinya. Beliau, ketika membaca Alqur’an Kh.Asrorususnya bacaan dalam sholat biasa-biasa saja. Tidak seperti kebanyakan imam yang selalu mengedapankan lagu irama bacaan. Sedangkan kalau beliau menekankan bacaan tajwidnya. Setelah sholat ada rasa ragu dalam benakku untuk melangkah ke dalem beliau. Ku usir keraguan itu. “Bila niatku baik kenapa aku harus ragu” gumanku dalam hati. Terlihat pintu dalem terbuka. Kusucapkan salam saat aku berada di depan pintu. Terdengar jawaban dari dalem. Kyai keluar dengan senyum sedikit mengembang di kedua bibirnya. Aku meraih kedua tangannya dan menciuminya. kemudian beliua duduk di atas kursi yang ada di depan dalem. Akupun di suruh duduk.

“ada pak Sawali?” tanya beliau. kembali di sergap oleh keraguan dalam hatiku. Tapi apakah aku harus berbohong pada beliau? Tidak, jawabannya tidak. Aku harus berani mengatakannya.

“matur pamit Kyai, kulo ngarep boyong Kyai.” Spontan keringat dingin keluar membasahi tubuhku. Beliau diam, tapi di situ ada senyum. Aku yakin, sebelumnya beliau sudah mengerti maksud kedatanganku. Karna beliau terkenal dengan mukasafahnya. Pernah ada seorang santri yang juga mau boyong. Kemudian satri itu di tanya oleh beliau “mau apa?” setelah santri itu menjawab, beliau bukannya mengizinkannya malah si santri itu di suruh idzin pada guru kelasnya. “kenapa idzin kesaya? Kapan kamu pernah mengaji padaku,? Sana pamit pada guru kelasmu.”  Semoga nasib ini tidak menimpaku, aku masih menunggu jawaban dari beliau.

“nak..”gumam beliau

“kamu harus tetap disini,” ada jeda. “Putriku sudah besar.” Aku tercengang mendengar penuturan beliau. Ku coba merenungi dalam-dalam perkataan beliau. Apa mungkin aku …..? ah ….itu tidak mungkin siapa diriku ? aku hanya anaknya penjual tahu. Kemudian beliau melanjutkan. “dan kamu sudah waktunya untuk menikah. Aku sudah sholat istihoroh dan bertanya pada putriku. Dan aku tidak meragukanmu untuk menjadi imam bagi putriku dunia dan ahirat. Banyangan neng Layla kembali melintas dalam pestas hanyalku. Gadis yang sangat cantik yang melebihi keelokan bidadari. Namun sekarang ia tak berdaya. Kecantikannya sudah hilang, kaki dan tanganya sudah patah, matanya buta, kupingnya tuli. Apakah aku harus menikahi gadis yang cacat?. Beribu macam pertanyaan berkecamuk dalam benakku.

Angin keraguan menyusup dalam hati. Aku terpekur dalam pikiranku. Lama aku terdiam bertanya-tanya pada hatiku sendiri. Namun akhirnya aku menemukan jati diriku. Bukannya sebelum aku melangkah menuju pesantren ini niat tulus sudah tertanam dalam diri ini? –karnaNya dan ku pasrahkan jiwaku mengabdi pada Kyai- sejak dulu aku tak pernah menolah perintah beliau. Benarkah diriku menolak perintahnya hanya lantaran putrinya yang cacat? Ya Allah maafkan hambaMu maafkan santrimu Kyai.

“nak, dari tadi kamu diam saja tidak menjawab pertanyaanku” aku tersadar, karna dari tadi aku bercengkrama dengan hatiku sendiri. “apakah kamu tidak mau dengan putriku nak?”

“tidak Kyai tidak, aku bersedia Kyai ” jawabku.

“Alhamdulillah, kalau begitu kamu besok bisa langsung akad, tidak baik bila sesuatu yang mungkin berbarokah ini di tunda-tunda”

***

Bintang-bintang dan rembulan sepertinya ingin segera leyap dari kegelapan malam dan di gantikan sang mentari. Ia ingin cepat-cepat menyaksikan akad pernikahanku dengan putri beliau. Malampun diganti oleh siang dengan sang mentari, ia tersenyum padaku. Kabar tetang pernikahanku begitu cepat menyebar. Sebagian teman-temanku mengucapkan selamat ada pula yang mencemoohku “kenapa kau harus menikah dengan gadis yang cacat.?” ada lagi. “anak penjual tahu memang pantas menikah dengan gadis yang cacat.” Tapi semuanya tidak aku hiraukan. Semua itu aku dasarkan karna sam’an wa toatan pada beliau. Ku lirik jam yang ada di dinding dalem sudah menunjukkan pukul 10:32 wis. Penghulu,dan para undangan maupun keluarga besar sudah hadir di tempat. Hanya pengatin perempuan belum keluar dari kamarnya.

Selang beberapa lama ada suara langkah kaki berjalan, semua mata tertuju pada sumber suara. Dan … betapa kagetnya diriku melihat neng Layla hadir tanpa di papah maupun kursi roda untuk berjalan. Wajahnya tertutup cadar dari rangkaian bunga melati. Bajunya berwarna putih di pandu dengan roknya juga berwarna putih. Keduanya di hiasi oleh manik-manik keemasan. Kemudian ia duduk bersimpuh  di sampingku.

“nak Sawali sudah siap?” tanya penghulu

“siap pak” jawabku tegas. “Angkah tukah wajawwat altuka…..

khobiltu nikahaha wa tazwijaha…” Ku jawab pernyataan penghulu dengan lancar.

“sah ?” tanya penghulu pada para saksi

“sah…!” jawabnya serentak. Alahamdulillah gumamku. Bahagia dan senang berpadu menjadi satu dalam hati. Dengan ini aku berharap kelak di aKh.Asrorirat nanti aku bisa berkumpul dengan Kh.Asror maupun istriku.

Tapi masih ada satu pertanyaan yang sedari dari tadi mengatup ngatup di benakku. Apa mungkin beliau tidak mengawinkan putrinya? Bahkan beliau memilih salah satu santri banat? Atau … dan … segunung pertanyaan memenuhi pikiranku.

Waktu terus berjalan dan berjalan. Matahari semakin condong kebarat, menurun dan kemudian masuk tenggelam dalam perut bumi. Senja mulai menapak tua, bias dilangit beberapa kali berganti berbentuk beberapa sapuan warna yang begtiu indah, biru, jingga, merah, hingga aKh.Asrorirnya gelap sama sekali, dan bitang-bintang mulai menampakkan cahayanya menerangi kampung banyu sangka. Malam ini adalah malam pertamaku sebagai seorang pengantin. Aku melangkah menuju kamar istriku, ku ucapkan salam. “waalaikum salam” jawabnya dari dalam. Hatiku semakin heran kenapa ia sepeka itu mendengar salamku. Padahal kuuluk salam dengan suara sepelan mungkin. Apa mungkin ia sudah sembuh.? Ku buka daun pintu, ia terlihat duduk diatas tempat tidur, masih mengenakna cadarnya. Ku duduk disampingnya. Ku memilih diam, hatiku remuk, apa mungkin Kh.Asror membohongiku? Aku tak boleh berburuk sangka. “kenapa diam mas?” ia melihatku dari balik cadarnya.

“apa mas tidak senang mempunyai istri seperti aku?”

“dik, sebelumnya aku minta maaf. Apa benar kamu putrinya Kh.Asror?”

“ya Allah, apa itu yang membuat mas berdiam diri mas,? Ia mas, aku putrinya Kh.Asror … ” belum sempurna ia berbicara aku potong “tapi mengapa kau bisa sesehat ini? Kenapa kamu bisa sembuh secepat ini? bukannya kemarin kamu kecelakaan.? Aku kecewa dik, aku takut kamu bukan putri beliau, neng Layla Karna yang saya tahu neng sudah cacat, kakinya dan tangannya patah, matanya buta dan kupingnya tuli. Meskipun begitu aku sudah menerimanya dengan iklas karna yang saya harapkan adalah barokah beliau.”

“Allah telah menurunkan rahmat dan rohimNya pada mas, aba tidak bohong mas, biar ku jelaskan” ia menarik menafas kemudian meneruskannya. “aku memang putrinya Kh.Asror dan aku baru datang dari cairo beberapa minggu kemarin. Tapi jangan salah sangka mas. Aku masih mempunyai adik yang mas sebut-sebut tadi yaitu Layla” rasanya hatiku mau melompat. Aku sepertinya tidak percaya. Aku hanya bisa terpukau dengan pandangan kabur. “saat itu, saat aku datang dari cairo, aku lebih suka berada dalam rumah mas, karna aku malu harus di lihat oleh santri-santri yang mengaji. khususnya padamu mas. Sejak kedatanganku dari cairo, aku bisa melihatmu dari balik jendela, diam-diam aku mengagumimu. Karna tak satupun santri yang bisa menggantikan posisi Kh.Asror untuk mengaji saat aba ada udzur. Lama-lama aku tidak bisa menahan rasa kagumku padamu. Aku meminta pada abaku untuk melamar mas. Walaupun sebenarnya aku sangat malu sebagai seorang perempuan.” Tubuhku bergetar, bumi berputar begitu cepat, aku sepertinya ada dalam mimpi, ya mimpi.

“bila mas menginginkan kakiku dan tanganku patah dan cacat, ingatlah mas, kaki dan tanganku sudah patah akan kemaksiatan. Mataku tak pernah ku melihat sesuatu yang haram, kupingku tak pernah mendengar omongan yang tidak baik mas.”

“berarti kamu bukan Layla?”

“bukan mas, aku bukan Laylatul jannah. Tapi aku Laylatul khoirot, putri Kh.Asror. hatiku sulit untuk mempercayai semua ini. Air mataku meleleh karna kebahagian yang ada dalam hati ini.

Dan kubernikan membuka cadarnya dan Masa Allah.. !! kalau memang wajah Laylatul janna seperti rembulan, maka aku tak berani menyamakan wajah istriku dengan rembulan itu. karna sang rembulan masih ada di bawahnya. Aku tidak bisa melukiskan kecantikannya. Rembulan maupun bintang tak mampu untuk menyamai kecantikannya. Sesekali aku membaca tasbih, tahmid dan bersukur pada Allah.

Cerita ini saya tulis agar seorang murid selalu toat pada gurunya dalam kondisi apapun. Karna sewaktu Kyai hendak menghapus tugasan sepertinya mereka tidak menerima.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: